Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Presentasikan Hasil Riset Di International Workshop Power, Conflict, and Democracy (IW-PCD)

Selasa, 02 Oktober 2018 11:18 WIB  

Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Presentasikan  Hasil Riset Di International Workshop Power, Conflict, and Democracy (IW-PCD)

Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan, Listiana Asworo, berkesempatan mempresentasikan hasil risetnya di acara International Workshop Power, Conflict, and Democracy  (IW-PCD) yang diselenggarakan di Yogyakarta(26-28/09). Acara ini hasil kerjasama Universitas Gadjah Mada dengan Universitas Oslo Norwegia. Mengangkat tema tentang “Refleksi 20 Tahun Reformasi di Indonesia, acara ini menghadirkan invite speakers yang berasal dari berbagai negara dan  lembaga antara lain, Olle Tornquist (Universitas Oslo, Norwegia), Kristian Stokke (Universitas Oslo, Norwegia), Stale Angen Rye (NTNU, Norwegia), Gerry van Klinken (KITLV, Universitas Amsterdam, Belanda), Max Lane (Universitas Melbourne, Australia), Nicolaas Waraouw (Universitas New South Wales), Cornelius Lay (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta), dan para Indonesianis lainnya.

Para peserta IW-PCD termasuk Dosen Listiana, diberi kesempatan untuk mempresentasikan penelitiannya yang  berjudul “Multiculturalism in Indonesia: An Utopia?FPI, Floating State, and The Absence of Public”. Argumentasi yang ingin disampaikan di forum tersebut adalah Multikulturalisme yang hendak ditegakkan dengan nalar legal-formal tidaklah efektif. Ini terjadi karena prasyarat yang harus dipenuhi tidak dipahami oleh negara, yakni trancedental and neutral state, dan sense of public. Negara yang seharusnya netral dan transedental justru “bermain” dengan kelompokvigilante. Ini juga diperparah dengan absennya masyarakat di ruang-ruang publik. Masyarakat tidak memiliki kesadaran tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Studi yang dilakukan oleh Dosen Listiana mendapat respon dari berbagai kalangan, termasuk Gerry van Klinken yang menyebutkan bahwa kajian tentang multikulturalisme di Indonesia menarik untuk ditelisik, karena berbeda dengan negara-negara multikultur lainnya, yang memiliki akar konflik yang sangat tinggi. Indonesia memiliki potensi konflik juga, tetapi baginya itu hanya percikan-percikan dan tidak sampai  meledak. Mengapa tidak sampai meledak? Itulah yang menarik baginya.

Riset-riset yang telah dipresentasikan dalam forum ini, akan ditindaklanjuti sebagai tulisan di jurnal Power, Conflict, and Democracy dengan tema Refleksi 20 Tahun Reformasi di Indonesia. Tentunya, dengan memperhatikan masukan-masukan dari para reviewer. Ini merupakan peluang atau kesempatan untuk membawa nama Prodi Ilmu Pemerintahan, UMM, ke kancah global.***

Shared: